Minggu, 19 Oktober 2014

(bi)Steik(?)

Seperti biasa Sabtu adalah hari pengejewantahan semua mimpi =D. Kali ini (seperti biasa juga) mimpi Supermi adalah membuat (bi)steik(?). Seperti biasa lagi resep-resep yang bertebaran di inet terlalu tinggi level untuk mengejawantahkan mimpi kami, tetapi tidak untuk imajinasi kami jadi resep berikut ini ngarang juga seperti biasa.

Pertama bahan yang harus disiapkanterbagi atas

Bahan steik :
  1. Ayam sebagai bahan utama
  2. Tepung terigu sebagai campuran (biar jadi banyak steiknya)
  3. Telur sebagai perekat
  4. Bawang putih
  5. Bawang merah
  6. Merica bubuk
  7. Garam
  8. Margarin untuk memanggang
Bahan saos :
  1. Saos barbeque (sisa kemaren, gak habis-habis karena dosis pemakaian cukup sedikit saja, intensitas rasa saos barbeque ternyata sangat tinggi)
  2. Saos tomat
  3. Saos tiram
  4. Kecap (sedikit saja untuk menyeimbangkan rasa sesaosan)
  5. Bawang bombay
  6. Bawang putih
  7. Garam
  8. Merica
  9. Tepung tapioka untuk mengentalkan
  10. Air secukupnya
  11. Margarin untuk menumis
Tambahkan juga sayuran agar kebutuhan serat tetap terpenuhi, saya pakai wortel dan buncis.
(gambar rotinya harap diabaikan, rotinye buat bikin burger yang tidak saya bahas di halaman ini :)

Cara Kerja

Pembuatan Steik :
  • Haluskan ayam, bawang putih, bawang merah, tambahkan garam dan merica. 
    • Tambahkan terigu dan telur, aduk rata, untuk level ini Supermiku yang icip, setelah matang baru giliran saya.

    • Panaskan wajan dengan margarin secukupnya, menggunakan minyak goreng juga bisa tetapi saya menggunakan margarin agar steik yang dihasilkan lebih gurih. Seperti biasa saya memanfaatkan Happycall, pake wajan biasa tentu juga bisa tetapi persiapkan diri untuk lelengketan sana sini, asal siap mental mau masak pake apa saja pun oke =D
    • Menggunakan sendok masukkan adonan steik tadi, ratakan agar penampakannya tipis, selain agar cepat matang penampakan yang tipis juga lebih enak dipandang. Kalau masalah enak dimakan, asal memanggang dengan benar (tidak gosong ataupun kurang matang) maka rasa steik yang dihasilkan tetap layak konsumsi :)
    • Setelah mengering sisi bagian bawahnya steik dapat dibalik, bolak-balik hingga steik kecoklatan. Steik yang telah kecoklatan siap diangkat, siap ditiriskan dan siap dimakan (ini baru giliran saya icip).



    Pembuatan saos :
    Untuk yang satu ini sudah tidak sempat potret-memotret yaaa...sudah serius masak!
    • potong tipis bawang putih dan bawang bombay
    • panaskan margarin, masukkan bebawangan
    • masukkan saos barbeque (saya pakai 1 sdm), saos tomat, saos tiram
    • masukkan tepung tapioka yang telah dilarutkan dalam air
    • tambahkan gula, garam dan merica, icip-icip
    • setelah sesuai selera, biarkan sampai meletup-letup
    • angkat dan siap diguyurkan
    Berikut ini hasil akhirnya

    Selamat menikmati, salam BBC.



    Kamis, 16 Oktober 2014

    Korban (tanpa) Android

    Pagi itu,

    "Assalamu'alaikum, assallamu'alaikum", suara dari luar pintu.
    "Wa'alaikumsalam", jawabku.
    "Ooo Bu RT, ada apa Bu?", tanyaku.
    "Waduh maaf Mbak, sampai lupa mau ngasih tahu, ibu-ibu komplek mau bikin seragam batik titip Bu Wangi (nama disamarkan). SEKARANG saya mau transfer ke Bu Wangi, Mbak mau?", kata Bu RT.
    "Warnanya apa Bu?", saking bingung pagi-pagi tiba-tiba ditodong jadi tanya ngelantur.
    "Merah atau biru, tapi ya semua tergantung Bu Wangi, kita nitip ya ngikut aja.", jawabnya.

    Lalu saya ngelonyor ke dalam ambil duwit, saya berikan,
    "Mbak gak ada WA sih ya jadi lupa terus kalo mau kasih info", tutup Bu RT.

    Ya itu tadi sedikit cerita, gambaran nasib ibu tanpa teknologi (baca: android). Selama ini saya cukup penasaran bagaimana ibu-ibu kompleks berkomunikasi, selalu apdet info, tahu kapan jadwal arisan (padahal jadwalnya tergantung Bu RT (lama)), apdet kabar si A sudah hamil, si B hamil 5 bulan, si C sudah melahirkan, dan saya (pasti) orang yang tahu paling akhir. Saat Saya sok-sok-an sok tahu memberi tahu ibu-ibu yang lain...aaahhhh ternyata mereka sudah tahu duluan. Tengsin mati.

    Sebelum saya tahu kalau ini semua adalah ulah android, saya sempat nongkrong berlama-lama di tikungan komplek, maklum rumah saya di pojokan, punya satu tetangga, sayang sang ibu tetangga sedang pulang Jawa untuk melahirkan. Tahu diri rumah tanpa tetangga komplek, saya sengaja banyak keluar rumah, berkeliling, melihat-lihat, banyak nongkrong di tikungan sambil ngemong anak. Maksud hati pengen ikutan nongkrong ngegosip bersama ibu-ibu komplek, eee...tahunya yang kumpul ngrumpul malah para ibu asisten (rumah tangga), trus para ibu komplek nongkrongnya dimana? Yuup mereka ngumpulnya di dunia maya, ngegosip maya, nongkrong maya lewat android. Yaahhh kalo sudah begitu TKO saya! Lha gak punya android, terima nasib saja.

    Sebenarnya sangat banyak manfaat android, yaaa apalagi kalo buat bersosialisasi. Tetep bisa ngrumpi walo sibuk masak, tetep bisa ngegosip walo sibuk nonton, yang pasti tetep bisa ngeksis tanpa harus mandi dan gosok gigi. Namun apa memang cukup kita bersosialisasi lewat dunia maya? Merujuk arti sosialisasi pada Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah proses belajar seorang anggota masyarakat untuk mengenal dan menghayati kebudayaan masyarakat dl lingkungannya (http://kbbi.web.id/sosialisasi), maka menurut pendapat saya bersosialisasi lewat dunia maya tidaklah cukup. Kemungkinan kita dapat mengenal seseorang melalui dunia maya memang ada, tetapi apakah itu dapat cukup menggambarkan keadaan seseorang itu dengan sebenarnya, dunia maya itu mudah diatur. Jika ingin terlihat baik hati di dunia maya, cukup bercerita, mengaupdate yang bagus-bagus saja dari hati kita. Jika ingin terlihat kurus di dunia maya, cukup pasang foto dari sudut plafon sana.

    Bisa jadi ini hanya opini saya yang tidak punya android. Saya tahu sangat banyak manfaat android tetapi alangkah lebih baik jika segala sesuatu tidak tergantung pada android. Apalagi perkumpulan masyarakat yang tidak ada sarat ber-android, harusnya bagi korban-korban seperti saya diakomodir ketidakmampuannya agar tetap update info. Lain lagi jika ada syarat punya android, cukup tendang saya. Beres! Salam BBC.

    Selasa, 14 Oktober 2014

    Nyawa Baru Roti Lama Kami

    Ini salah satu kegiatan yang paling saya sukai dari memasak, daur ulang. Kami merekayasa makanan yang sudah mulai membosankan menjadi makanan yang baru, baik penampilan maupun rasanya, sehingga menggoda mata para penikmatnya =D

    Sore ini yang menjadi sasaran saya adalah roti tawar dengan taburan cochochip. Roti ini telah tergeletak lebih dari seminggu, tanpa ada tangan yang sudi menyentuhnya. Sebenarnya si roti adalah korban berbelanja dalam kondisi lapar, seluruh isi toko roti melambaikan tangan, meminta dimasukkan kranjang. JANGAN BERBELANJA SAAT LAPAR! Itu nasehat saya.

    Dan berikut adalah resep daur ulang roti kami.

    Bahan :
    1. Roti tawar, potong jadi empat bagian, semakin kecil ukuran roti tentu semakin cepat proses pematangannya.
    2. Gula sebagai taburan, tanpa taburan juga boleh, menggunakan selai juga boleh, hanya saja taburan yang tidak ikut mengering saat dipanggang menyebabkan roti tidak dapat disimpan dalam waktu yang lama.
    Alat :
    Cukup sediakan pemanggang, saya menggunakan Happy Call. Wajan biasa juga dapat digunakan hanya saja pastikan wajan telah benar-benar panas sebelum memasukkan roti dan gunakan api kecil agar pemanasan terjadi dengan sempurna dan merata. Oven, tentu saja dapat digunakan!

    Cara Kerja :
    Panggang roti pada pemanggang yang telah dipanaskan sebelumnya. Cek setiap 5 atau 10 menit, tergantung pemanggang yang digunakan. Jika roti telah mengering (bukan menggosong ya!) balik, panggang lagi sisi lainnya. Jika kedua sisi telah mengering, taburkan gula pada salah satu sisi, panggang kembali, pastikan TIDAK GOSONG! 
    Pemberian gula setelah kedua sisi kering adalah untuk memastikan sisi dengan taburan gula tidak perlu dipanggang lagi akibat kurang kering. Roti panggang ini tidak akan tahan lama jika tidak kering sempurna, jadi pastikan pemanggangannya merata.
    Setelah itu simpan roti dalam wadah kedap udara. Roti dapat dinikmati kapan saja, dimana saja dengan mudahnya.

    Selamat mencoba. Salam BBC.
    (di bawah ini contoh rotinya, OJO NGILERRR!)

    Minggu, 12 Oktober 2014

    Yoghurt juga teman sate ayam

    Seperti biasa tiba-tiba Supermi-ku mendapatkan ide absurd dari hobinya, nonton tivi. Supermi memutuskan untuk menyate ayam pada Sabtu, 11 Oktober 2014, dan yang paling absurd dari semua adalah bumbu sate ayamnya, YOGHURT!! Namun percayalah rasanya se-absurd idenya =D

    Pertama siapkan bahan-bahan sebagai berikut yaaa, bahan-bahan berikut murni hasil imajinasi :

    Bahan sate :
    • daging ayam 500 gr
    • yoghurt 1 kotak (saya pake "can your yoghurt go with you")
    • cabe sesuai selera
    • ketumbar sesuai selera
    Bahan Saos :
    • saos barbeque siap pakai
    • bawang putih
    • bawang merah
    • sedikit yoghurt
    • air secukupnya
    • garam
    • minyak goreng
    Jangan lupa arang dan tusuk satenya.

    Cara kerja :
    Potong ayam sesuai ukuran yang diinginkan, kecepatan pematangan berbanding terbalik dengan besarnya ukuran, lalu tata (tusuk) pada tusuk sate.


    Haluskan cabe dan ketumbar, masukkan yoghurt dan garam. Dicicipin ya, dipaskan selera anda. Lalu masukkan calon sate ke dalamnya.

    Setelah puas menyelup-nyelup calon sate, segera bakar para calon sate.
    Sembari Supermi sibuk membakar sate, siapkan saosnya ya. Iris tipis bawang putih dan bawang merah. Panaskan minyak goreng, masukkan para bawang. Lalu masukkan saos barbeque, youghurt, air, dan garam. Aduk, cicip, aduk, cicip. Setelah cocok dengan selera anda, angkat. Sate hasil bakaran Supermi siap dicocolkan. Rasa saos ini cukup menyengat, sebaiknya pikirkan matang-matang sebelum memberikannya pada lelaki usia 14 bulan 15 hari. Tanpa saos pun sate ayam ini tetap nikmat untuk disantap, sebagaimana contoh di bawah ini.
    Demikian, salam BBC.



    Jumat, 10 Oktober 2014

    Perkenalan

    Bismillah...

    Tidak ada kata terlambat untuk ngeblog.
    Itu "ngelesan" saya untuk hari ini. Sangat uzur memang baru mulai ngeblog pada usia internet yang sudah semakin senja, tetapi karena tuntutan profesi apa daya harus saya jalani. Empat belas bulan 11 hari profesi sebagai ibu telah saya jalani, ternyata tidak mudah. Intensitas bicara semakin tinggi, berbanding terbalik dengan kerja otak yang semakin lambat sehingga saya membutuhkan media untuk menampung semua keinginan bicara saya dan keinginan tersebut tentunya semoga dapat tersesuaikan dengan kecepatan otak saya.

    Sesuai judulnya, blog ini akan berisi cerita rumahan saya, tentang suami, anak dan semua sanak famili saya, so jangan beharap blog ini akan berisi tips untuk jadi kaya (saya juga mau itu:). Untuk itu mulai perkenalan ini saya juga akan memperkenalkan seluruh anggota keluarga saya (di luar diri saya ya):
    1. Supermi, suami super saya. Seorang pegawai negeri yang tentu saja super, mulai dari penampilan, tidak diperhatikan. Beliau berangkat ke kantor menggunakan sandal jepit, baru kemudian berganti sepatu saat sampai kantor, " kan tidak ada aturan yang mengatur saya harus pake sepatu saat berangkat kantor", begitu kilahnya. Padahal banyak orang mau kerja kantoran (pegawai) agar punya penampilan necis, dibilang pake sragam, pongah kiri kanan. Perkara sragam pun demikian, berangkat ke kantor berjaket agar sragam tidak terlihat. Cukup geleng kepala. Demikian dulu resume untuk suami saya, berita lebih lengkap insyaallah pada episode-episode berikutnya.
    2. Iro atau Iyyo panggilan "cute"nya, saya beri dobel "y" agar tidak sama dengan kata "iya" dalam bahasa jawa. Anak lelakiku yang usianya, berapa tadi??? yuuup 14 bulan 11 hari dengan kemampuan berceloteh ajaib, bagaimana tidak saat ditanya bagaimana suara ayam berkokok "ueeeng" adalah jawabnya. Pempes jadi "pa" dilafalnya, pus jadi "pu:", yang "nggledek" diucap adalah kata "mbah", bahkan kadang dilagukan, huft, bikin ngirikan?? apalagi kata "bu:" hanya diucap saat dia sedang menangis merengek sejadinya, T..T
    3. Mbahyo adalah nenek Iro yang baru berusia EMPAT PULUH ENAM TAHUN. Beban berat saya sebagai anaknya, pertama karena usia kami yang terpaut cukup dekat sama sekali tidak memberi keuntungan bagi saya di bidang penampilan, parahnya beliau memiliki paras cantik dan kulit yang sangat mulus yang tidak setitikpun menetes pada fenotip saya. Lebih parah lagi beliau awet muda!
    4. Ek Nyong adalah adik kandung saya yang melengkapi kegelisahan saya pada penampilan, karena dia CANTIK!!! Ya gen ibu saya yang cantik tadi terekspresikan padanya. Cukup sudah membahas kepedihan saya tentang fenotip, sekarang adik saya yang cantik (ups) itu sedang menuntut ilmu jauh dari kami sekeluarga, semoga selalu dalam lindungan Allah SWT. Hanya pada-Nya kutitipkan segala harta hidupku.
    Ahhh...demikianlah sekedar perkenalan, semoga membuka pintu bayangan apa yang akan saya ceritakan di blog ini,  jika tidak berkenan monggo angkat kaki. Salam BBC (Bersyukur, Berbahagia, Ceria).