Kamis, 16 Oktober 2014

Korban (tanpa) Android

Pagi itu,

"Assalamu'alaikum, assallamu'alaikum", suara dari luar pintu.
"Wa'alaikumsalam", jawabku.
"Ooo Bu RT, ada apa Bu?", tanyaku.
"Waduh maaf Mbak, sampai lupa mau ngasih tahu, ibu-ibu komplek mau bikin seragam batik titip Bu Wangi (nama disamarkan). SEKARANG saya mau transfer ke Bu Wangi, Mbak mau?", kata Bu RT.
"Warnanya apa Bu?", saking bingung pagi-pagi tiba-tiba ditodong jadi tanya ngelantur.
"Merah atau biru, tapi ya semua tergantung Bu Wangi, kita nitip ya ngikut aja.", jawabnya.

Lalu saya ngelonyor ke dalam ambil duwit, saya berikan,
"Mbak gak ada WA sih ya jadi lupa terus kalo mau kasih info", tutup Bu RT.

Ya itu tadi sedikit cerita, gambaran nasib ibu tanpa teknologi (baca: android). Selama ini saya cukup penasaran bagaimana ibu-ibu kompleks berkomunikasi, selalu apdet info, tahu kapan jadwal arisan (padahal jadwalnya tergantung Bu RT (lama)), apdet kabar si A sudah hamil, si B hamil 5 bulan, si C sudah melahirkan, dan saya (pasti) orang yang tahu paling akhir. Saat Saya sok-sok-an sok tahu memberi tahu ibu-ibu yang lain...aaahhhh ternyata mereka sudah tahu duluan. Tengsin mati.

Sebelum saya tahu kalau ini semua adalah ulah android, saya sempat nongkrong berlama-lama di tikungan komplek, maklum rumah saya di pojokan, punya satu tetangga, sayang sang ibu tetangga sedang pulang Jawa untuk melahirkan. Tahu diri rumah tanpa tetangga komplek, saya sengaja banyak keluar rumah, berkeliling, melihat-lihat, banyak nongkrong di tikungan sambil ngemong anak. Maksud hati pengen ikutan nongkrong ngegosip bersama ibu-ibu komplek, eee...tahunya yang kumpul ngrumpul malah para ibu asisten (rumah tangga), trus para ibu komplek nongkrongnya dimana? Yuup mereka ngumpulnya di dunia maya, ngegosip maya, nongkrong maya lewat android. Yaahhh kalo sudah begitu TKO saya! Lha gak punya android, terima nasib saja.

Sebenarnya sangat banyak manfaat android, yaaa apalagi kalo buat bersosialisasi. Tetep bisa ngrumpi walo sibuk masak, tetep bisa ngegosip walo sibuk nonton, yang pasti tetep bisa ngeksis tanpa harus mandi dan gosok gigi. Namun apa memang cukup kita bersosialisasi lewat dunia maya? Merujuk arti sosialisasi pada Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah proses belajar seorang anggota masyarakat untuk mengenal dan menghayati kebudayaan masyarakat dl lingkungannya (http://kbbi.web.id/sosialisasi), maka menurut pendapat saya bersosialisasi lewat dunia maya tidaklah cukup. Kemungkinan kita dapat mengenal seseorang melalui dunia maya memang ada, tetapi apakah itu dapat cukup menggambarkan keadaan seseorang itu dengan sebenarnya, dunia maya itu mudah diatur. Jika ingin terlihat baik hati di dunia maya, cukup bercerita, mengaupdate yang bagus-bagus saja dari hati kita. Jika ingin terlihat kurus di dunia maya, cukup pasang foto dari sudut plafon sana.

Bisa jadi ini hanya opini saya yang tidak punya android. Saya tahu sangat banyak manfaat android tetapi alangkah lebih baik jika segala sesuatu tidak tergantung pada android. Apalagi perkumpulan masyarakat yang tidak ada sarat ber-android, harusnya bagi korban-korban seperti saya diakomodir ketidakmampuannya agar tetap update info. Lain lagi jika ada syarat punya android, cukup tendang saya. Beres! Salam BBC.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar